Animal Euthanasia

Kali ini saya ingin menyinggung sedikit mengenai animal euthanasia mengingat topik ini hingga sekarang masih menjadi pro dan kontra bagi setiap orang yang secara langsung ataupun secara tidak langsung terlibat di dalamnya, mulai dari pemilik hewan, pecinta binatang, dokter hewan maupun bagi kebanyakan orang awam.   

Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan euthanasia itu?  

Kata euthanasia sendiri berasal dari Yunani, yaitu Eu – baik dan Thanatos – kematian sehingga euthanasia disebutkan sebagai kematian dengan cara yang baik karena dilakukan dengan meminimalisasikan rasa sakit dan stress. Euthanasia dinyatakan sebagai jalan keluar terakhir disaat tidak diketemukannya alternatif medis lain yang dapat membantu pasien menuju persembuhan.  

Sedikit cuplikan dari brosur tentang pet-euthanasia yang dibuat oleh American Veterinary Medical Association (AVMA):

 ..…“If your pet can no longer experience the things it once enjoyed, cannot respond to you in its usual ways, or appears to be experiencing more pain than pleasure, you may need to consider euthanasia”….. 

….”if your pets is terminally ill or critically injured, or if the financial or the emotional cost of treatment is beyond your means, euthanasia may be a valid option”…..  

Brosur ini memuat informasi yang sangat berguna tentang euthanasia sehingga para pemilik hewan dapat mengambil keputusan yang tepat bagi hewan kesayangan mereka. Informasi yang diberikan meliputi hal-hal yang perlu dipertimbangan terutama tentang pemilihan waktu dan alasan euthanasia tersebut perlu dilakukan. Di dalamnya juga disebutkan bahwa dokter hewan berperan memberikan informasi sebanyak-banyaknya mengenai kondisi pasien terutama setelah melakukan pemeriksaan termasuk pilihan terapi beserta resikonya sementara keputusan euthanasia sepenuhnya tetap berada di tangan klien sebagai pemilik hewan.   

Beberapa sumber informasi menyebutkan bahwa animal euthanasia umumnya dilakukan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :

1. Terminal Illness

Hewan diketahui menderita penyakit-penyakit seperti kanker, rabies, dan penyakit lain yang dapat menyebabkan kematian.

2. Aggressive behavior (vicious, dangerous, unmanageable)

Hewan memiliki perilaku agresif yang tidak dapat dikendalikan lagi dan membahayakan lingkungan sekitarnya, terutama bagi manusia. Apakah ada yang masih ingat kisah nyata tentang seorang anak kecil di Amerika di gigit pitbull milik pamannya hingga meninggal, sementara neneknya terluka parah.  (http://news.bbc.co.uk/1/hi/england/merseyside/6222319.stm)

3. Overpopulated animal with limited adoption

Hewan-hewan liar yang ditampung di shelter dan terpaksa harus ditidurkan karena jumlahnya terlalu banyak dengan jumlah adopsi yang tidak berimbang, dalam kasus ini kebanyakan anjing ataupun kucing liar yang berada di jalanan.

4. Accident causing permanent damage with financial difficulty for the owner to support the therapy.

Hewan mengalami kecelakaan yang menyebabkan terjadinya kerusakan permanen sehingga membutuhkan terapi khusus, sementara pemilik mengalami kesulitan finansial untuk mensupport biaya terapi yang dibutuhkan.

5. Old age

Usia hewan yang semakin tua menyebabkan penurunan fungsi dari organ-organ tubuh hewan sehingga pada fase ini sering dikatakan bahwa hewan telah mengalami penurunan kualitas hidup.   

Selain brosur pet-euthanasia, AVMA juga telah mengeluarkan Guidelines to Euthanasia (Formerly Report of the AVMA Panel on the Euthanasia, June 2007) yang  merupakan review dari guideline-guideline sebelumnya yang mengulas tentang panduan pelaksanaan euthanasia yang baik sesuai dengan tujuannya terhadap berbagai macam hewan dengan lingkungan hidup yang berbeda pula. Pengevaluasian metode euthanasia oleh AVMA dilakukan dengan merujuk kepada kemampuan agen euthanasia untuk menginduksi hewan tanpa disertai rasa sakit dan stress; jangka waktu yang diperlukan agen euthanasia untuk menginduksi; konsistensi agen euthanasia yang digunakan; keamanan agen euthanasia bagi personel; kompatibilitas agen euthanasia sesuai dengan persyaratan dan alasan euthanasia; efek emosional yang dapat ditimbulkan bagi pengamat dan operator euthanasia; kompatibilitas dengan evaluasi selanjutnya atau penggunaan jaringan tubuh setelah proses berlangsung; ketersediaan dan akses terhadap agen euthanasia; kompatibilitas agen euthanasia dengan jenis hewan, umur dan status kesehatan; ketentuan perawatan peralatan yang digunakan dalam proses euthanasia; serta keamanan karkas terhadap predator. 

Secara umum, kebanyakan euthanasia pada hewan kesayangan dilakukan melalui injeksi intra vena (IV) menggunakan sediaan barbiturate dalam dosis tinggi (pentobarbital). Penyuntikan ini dapat dilakukan dengan satu tahapan atau dua tahapan. Euthanasia dengan 2 tahapan diawali dengan penyuntikan obat bius hingga pasien menjadi tidak sadar, kemudian dilanjutkan dengan penyuntikan kedua sehingga hewan tidak mengalami rasa sakit, penyuntikan kedua ini dapat dilakukan melalui injeksi intra cardiac. Penyuntikan intra cardiac langsung tanpa didahului fase pembiusan di California dinyatakan sebagai tindakan kejahatan loh. Untuk hewan-hewan kecil seperti marmot, hamster, atau burung – euthanasia dilakukan melalui inhalasi menggunakan anesthetics gas seperti isoflurane dan sevoflurane. Sementara itu pada hewan besar seperti kuda, euthanasia dilakukan dengan penembakan pada dahi yang diarahkan ke spinal cord melalui medulla oblongata yang menyebabkan kematian seketika pada hewan, tentu saja hal tersebut harus dilakukan oleh orang yang sudah berpengalaman. Perlakuan terhadap hewan-hewan untuk kepentingan konsumsi manusia juga disebutkan sepantasnya mendapatkan perlakuan yang sama dengan hewan yang akan dieuthanasia. Dalam hal ini, euthanasia pada sapi dilakukan dengan menggunakan captive bolt/ penyetruman yang dilanjutkan dengan exsanguinasi.  

Lokasi pelaksanaan euthanasia dapat dilakukan di klinik hewan, di rumah klien, ataupun di tempat kejadian, hal tersebut disesuaikan dengan keinginan klien. Euthanasia yang dilakukan pada tempat kejadian biasanya terjadi pada kuda pacu yang mengalami kecelakaan pada saat berpacu di lapangan. Pada saat pelaksanaan euthanasia, pemilik diberikan kesempatan untuk mengikuti proses atau menunggu hingga proses itu selesai. Pemilik yang memutuskan untuk mendampingi hewannya tentu saja harus diberikan penjelasan mengenai rigor mortis, urinasi atau defekasi yang mungkin dapat terjadi pada saat proses berjalan sehingga pemilik tidak kaget dan mengalami shock. Bahkan pada beberapa kasus pemilik dianjurkan untuk melakukan nekropsi supaya mendapatkan informasi yang jelas mengenai kondisi penyakit yang diderita hewannya.  

O p i N i . . . .

 Opini-opini yang bermunculan tentang benar atau salahnya pengambilan keputusan euthanasia, menurut saya masih sangat relatif sekali karena tidak semua orang mempunyai pendapat, pengalaman ataupun perasaan yang sama dengan apa yang kita alami. Opini seorang pecinta binatang tentu saja tidak akan sama dengan opini orang yang takut dengan binatang.  

Sebagai pendapat pribadi, saya sendiri pun merasa bahwa pada beberapa kasus, euthanasia memang perlu untuk dilakukan. Idealnya sebisa mungkin, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa euthanasia diambil sebagai langkah terakhir ketika sudah tidak tersedia alternatif medis lainnya. Dalam pelaksanaannya di lapangan, euthanasia sendiri dilakukan ada yang tanpa kompromi dan ada yang disertai kompromi terlebih dulu. Bagi saya, keputusan tidak melakukan euthanasia tanpa diikuti tindakan terapi yang sesuai pun akan mengakibatkan penderitaan yang bekepanjangan bagi hewan, serta memerlukan biaya perawatan yang tidak sedikit yang dapat memberatkan klien. Lain halnya dengan penangkaran-penangkaran primata yang bertujuan untuk menyediakan hewan model yang Specific Pathogen Free (SPF), euthanasia terhadap hewan yang positif tuberculosis dilakukan tanpa kompromi (tentu saja sesuai dengan SOP-nya) mengingat penyakit ini dapat menular dan membahayakan kesehatan personel yang bekerja di lingkungan tersebut. Dan sebagai salah satu bentuk penghormatan yang dapat kita berikan adalah melakukan proses tersebut sebaik-baiknya sesuai dengan kode etik yang kita pegang.  

Tapi kalau boleh ngayal yang ngeyel, andai si dogi atau si mpus bisa ditanya bagaimana maunya ya…

Bagaimana dengan Anda?  

* * * * * 

Sekedar informasi tambahan, beberapa tempat penampungan hewan di Amerika yang juga sudah menerapkan program “No-Kill” shelter yang berarti hewan-hewan yang berada di dalamnya tidak akan di-euthanasi berdasarkan alasan non-medis. Kegiatan dalam shelter-shelter itu disponsori oleh organisasi kesejahteraan hewan, subsidi pemerintah lokal ataupun sumbangan pribadi para penyayang binatang. Disediakan juga hotline khusus bagi para pemilik hewan yang hendak berkonsultasi ataupun bagi para pemilik hewan yang telah melalui proses euthanasia. 

Kita di Indonesia juga mempunyai beberapa animal shelter yang tersebar di beberapa lokasi seperti Pondok Pengayom Satwa di Ragunan – Jakarta; Pusat Perlindungan Satwa di Cikananga – Sukabumi;  Pusat Perlindungan Satwa di Petung Sewu – Malang; Yayasan Yudhistira –  Bali yang bergerak di bidang kesejahteraan bagi anjing. Penanganan terhadap hewan-hewan liar di jalanan, umumnya terhadap anjing dan kucing dilakukan dengan program sterilisasi untuk membatasi over populasi di lingkungan. 

* * * * *

Informasi diperoleh dari berbagai sumber : 

http://www.justusdogs.com.au/flex/euthanasia_when_to_consider_ending_your_dogs_life/662/1

http://www.avma.org/communications/brochures/euthanasia/pet/pet_euth_brochure.asp

http://en.wikipedia.org/wiki/Animal_euthanasia

http://www.thepetcenter.com/imtop/euthanasia.htm

http://dogs.lovetoknow.com/wiki/Dog_Euthanasia 

* * * * *

Advertisements

2 thoughts on “Animal Euthanasia

  1. great blog pie,

    btw boleh ga tulisannya gw muat jg di Genetika21? yg ini kl boleh buat minggu depan, yg laen jg boleh kalo diijinkan hehe.

  2. Pingback: Animal Euthanasia | IPB Student Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s