Minggu pagi itu

among the city crowd, pray is necessary - Bangkok, January 2010

Hummmm… akhir pekan lalu saya mendapat kesempatan untuk dinas ke luar kota, Bangkok tepatnya. Separuh antusias dan separuh deg-degan karena kepergian kali ini bukan sekedar dines biasa, tapi untuk menghadiri meeting yang pesertanya perwakilan dari beberapa negara tempat perusahaan kami mempunyai cabang sehingga notabene semua material presentasi, diskusi dan percakapan dilakukan dengan menggunakan bahasa injlis. Sedikit parno mengingat sudah cukup lama saya tidak menggunakan bahasa injlis dalam percakapan seutuhnya dan kalimat-kalimat yang bisa saya ucapkan dengan fasih dalam bahasa injlis kebanyakan adalah teks lagu wahahaha…kacau… ibaratnya kalo tante pilipin disuruh nyanyi denpasar moon doang itu bakalan lebih mudah daripada harus pidato gitu loh…

Semua kecemasan tersebut sempat terlupakan mengingat masih begitu banyak pekerjaan lain yang masih tetap harus dilakukan, peer-peer juga masih tetap bermunculan setiap hari hingga gak kerasa tiba waktunya saya harus mengepak dan pergi. Well…. berhubung ini kepergian dines, saya memutuskan membawa koper yang memang tidak praktis tapi cukup efektif untuk membuat baju tetap licin dan cinclong, taksi pun sudah saya pesan untuk menjemput di depan pintu kosan. Tapi yang saya lupa perhitungkan, semenjak bulan lalu lapangan sempur dijadikan pusat olahraga sehingga seluruh kendaraan yang melewatinya diblok, tidak boleh masuk sementara kosan saya di daerah terblok itu. Sopir taksi pesanan saya pun panik dan segera menghubungi saya. Saya pun dengan sok tenang menyuruhnya menunggu di daerah taman kencana, di atas lembah kosan. Sebenarnya agak berat hati melakukan ini, mengingat perjalanan dari kosan saya menuju taman kencana itu harus mendaki anak tangga sebanyak 120an, dan kali ini saya harus menggembol ransel dan koper. Bener-bener pagi yang sehat ahakahahakak…. sekarang sih udah bisa ngetawain, tapi pas kemaren nanjak itu mulut kok ya rasanya pingin ndumel hehehehe…

Perjalanan dari Bogor sendiri menuju bandara cukup lancar, saya tiba dengan waktu yang lebih dari cukup untuk mengurus segala keperluan yang tertinggal. Mengawasi orang yang lalu lalang dengan gaya pergi ke luar negerinya yang heboh-heboh dan membuat saya tersenyum. Melihat rombongan-rombongan wanita TKI yang akan berangkat memenuhi pelataran lobi check in, sehubungan dengan ini saya cukup sedih melihat perlakuan petugas bandara yang berada di toilet. Ketika saya sedang mengantri, petugas kebersihan ini tetap mendorong bolak balik dengan serok airnya, padahal ya gak ada airnya, terutama di bagian toilet yang isinya para TKI itu. Ada salah satu pintu yang tidak bisa terkunci dan dia dengan seenaknya membuka padahal dia tau di dalamnya ada orang sambil mengomel-ngomel kelamaan katanya. Ya tentu saja jadinya para penunggu lain jadi cukup kaget melihat adegan buka-bukaan itu, kemudian dengan galaknya sang petugas bilang ‘siramnya pake yang itu, ditekan ya yang ini ditekan’ sambil menunjuk kenop flushing dengan ujung serok airnya padahal orangnya belum selesai membenahi pakaiannya. Rasanya gak cuma saya yang terkesima dan melotot ke si mbak yang merasa sok kota itu, tapi berhubung yang dibuka juga tidak komplen kami hanya bisa saling menatap menyatakan ketidaksetujuan kami atas perlakuan itu. Setelah itu, si mbak TKI keluar dari toilet dengan memberikan uang dua ribu yang diterima si mbak petugas ini dengan semangatnya, sementara waktu saya keluar si mbak petugas hanya menatap saya tapi tidak berani untuk berkomentar apapun. Cukup mengecewakan memang melihat Bandara Soekarno Hatta di gate penerbangan internasional mempunyai pelayanan seperti itu, toh biar bagaimanapun para TKI itu juga sama-sama pengguna jasa pelayanan internasional yang ditawarkan di sana loh. Kali ini saya pun hanya bisa mendumel-dumel lagi dalam hati.

make a wish! Central World mall - Bangkok, January 2010

 

Memasuki gerbang check in, saya harus menunggu 2 jam sebelum counter yang dituju buka, kemudian segera menuju counter berikutnya untuk mengurus bebas fiscal dan melewati pihak imigrasi. Pihak imigrasi cukup lama mengamati paspor saya, ya gak heran juga kalo si bapak petugas terkesima mengingat poto paspor saya beberapa tahun lalu itu menunjukkan tren mode rambut megaloman saya yang berwarna kuning kemerah-merahan sementara sekarang berwarna coklat keunguan wahahaha… untung boleh lewat juga akhirnya. Setelah bosan mondar mandir melihat souvenir di toko-toko sekitar saya akhirnya memutuskan untuk duduk manis di salah satu pojokan dengan segelas kopi panas dan cinnamon roll, menatap landasan pacu yang becek akibat hujan pagi itu hingga akhirnya tiba waktunya untuk boarding.

Advertisement

2 thoughts on “Minggu pagi itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s