Yogyakarta – Jakarta – Bogor

Malam minggu itu saya kembali duduk di kursi besi di antara rel-rel kereta di Stasiyun Lempuyangan. Kali ini pasti, saya akan pulang karena libur telah usai. Dari Seturan, kali ini saya diantar ke Lempuyangan oleh Mas Didi dan eyang kakungnya jeng Imoel dan Toko yang sedang mampir di Seturan. Memantapkan diri, saya harus kembali ke Bogor dan memulai kembali semua rutinitas yang kadang (belakangan sih seringkali deh) membuat saya jenuh. Permasalahan yang tak kunjung usai serta ketegasan yang tak kunjung ditunjukkan di kantor membuat saya tergoda mengingkari janji saya dan memutuskan untuk berpaling ke tempat yang lain. Tapi saya belum bisa dan saya memutuskan untuk kembali. Begitu banyak pertimbangan dan perhitungan yang singgah di benak untuk beberapa waktu. Ah… mungkin saya sendiri yang masih belum siap meninggalkan comfort zone saya ya…. lah malah jadi curhat?

 

*mungkin ketularan lebay dari Eru nih gyahahaha*  Continue reading

Prambanan

Since I have enough sleeping and rest on the bus I decided to go to Prambanan that day. So after taking a fresh shower and breakfast at Seturan, Toko drove me back to trans Yogya halte on Amplas and I took 1B route to take me to Prambanan halte. The temples are seen from the main street but to get to the main gate you could walk or riding a becak. And I prefer to walk to spend the time.

 

Continue reading

Denpasar – Yogyakarta

My summer holiday is almost end, and I decided to go back to Yogyakarta by Safari Dharma Raya bus. The ticket’s price is 215.000 rupiahs. Imoel drove me to Ubung bus station in Denpasar and waiting until the bus drove away. This time no rubber watch, it leaves at 14.30 pm based on its schedule. Ah another journey to go home. The bus’s seat is comfortable enough and I sat next to the window so I could watch all the view outside. The city crowd disappear fastly replacing by villages and grass field. By the time we were reached Negara I could smell and see the ocean, far at end of the paddy field and soon the bus entering the Gilimanuk port.

Continue reading

VolcanoTalks Museum – Bali

Dari rumahnya Kadek, kami pun langsung menuju daerah Kintamani. Setelah melewati gerbang wisata kawasan Gunung Berapi Batur, saya dan Anna jalan-jalan sementara Imoel dan Kadek menghadiri resepsi pernikahan temannya di daerah sebelah sana lagi, huhuuu…lupa nama daerahnya apa waktu itu pokoknya masih dekat-dekat daerah Kintamani yang banyak pohon jeruknya sepanjang jalan deh. Berhubung nyetirnya ngebut jadi sudah tidak sempet lagi poto-poto pohon jeruk dengan buah yang bergelantungan di ranting-ranting kurusnya. Tapi sudahlah…. toh saya akan kembali lagi secepatnya ^^

 

Lalu…lalu…

 

Ups… sebelumnya seperti biasa, buat para fakir bandwidth BEWARE!!

 

Continue reading

A house in Bangli

Well, setelah clingukan di lapangan Bangli melihat pameran anjing kami – masih Imoel, Kadek, Anna dan saya langsung menuju rumah Kadek yang lokasinya masih berada di seputar Bangli. Langit masih berwarna biru cerah dihiasi awan yang menggantung beriringan kemudian terurai secara perlahan oleh tiupan angin.

 

Pingin rasanya menyerap semua warna-warna yang ada di sekeliling, tidak hanya dengan mata ini dan hape butut yang sudah pada ngambek menyimpan semua foto-foto perjalanan saya ini.

 

 

Selamat menikmati ^^

 

Edisi summer holidays ini kayaknya gak aman buat para fakir bandwidth, gomennn.

 

Continue reading

Dog exhibition in Bangli – Bali

That Sunday, there was a dog exhibition in one of the field in Bangli. The sky was so blue with bunch of clouds hangin, lining coverin the sunshine. I found mama panda on duty among the stands. There are a lot of dogs from black labrador, golden retriever, rottweiler, kintamani, doberman, pug, Pomeranian, mini pincher, etc etc.

 

It’s a furry weekend for dog’s lover like me ^^

 

BEWARE for fakir bandwidth !!!

 

Continue reading