Travelog: Payakumbuh – Lembah Harau

Berdasarkan informasi dari hasil browsing dan rekomendasi yang cukup baik saya memutuskan akan mencoba menginap di Lembah Harau, tepatnya di Abdi Homestay yang lokasinya tepat di tepi lembah. Saya menghubungi nomor kontak yang diberikan dan pindah dari tengah kota menuju lembah Harau menggunakan grab.

Harau valley, Sumatera Barat

Begitu tiba saya langsung di antar ke bungalow saya yang letaknya di tengah-tengah homestay, bungalownya sederhana dan cantik menurut saya dilengkapi dengan hammock yang menggantung di serambinya. Abdi Homestay mempunyai beberapa bungalow yang dapat digunakan untuk berdua atau keluarga, pengaturannya disesuaikan sesuai dengan tamu yang akan datang. Pengurus homestay merupakan keluarga dari Ibu Nonik yang merupakan pemiliknya, dinamakan Abdi sesuai dengan nama anaknya. Homestay ini ternyata cukup direkomendasikan oleh para backpacker yang wara-wiri di Sumatera, karena tempatnya sejuk, tidak terlalu ramai, pemandangannya menakjubkan dan keramahan pemilik dan para pengurusnya. Homestay ini mempunyai semacam dapur kantin yang menyediakan makanan rumahan sesuai dengan menu yang dimasak hari itu oleh bude.

Sweet bungalow @Abdi homestay, Sumatera Barat

Awalnya saya hanya merencanakan untuk tinggal selama dua hari yang kemudian berlanjut menjadi dua minggu (tambah dua hari, dua hari dan dua hari lagi J) untung saja waktu itu bukan musim liburan tetapi hampir semua bungalow terisi selama saya di sana. Kebanyakan saya bertemu dengan turis dari Eropa (Belanda dan Jerman), serta keluarga dari Malaysia yang sudah rutin berkunjung ke sana. 

Rasa kekeluargaan sangat kental di sini, mereka menyambut saya seperti keluarga jauh yang datang berkunjung. Adik dan sepupu dari Ibu Nonik menjadi guide-guide bagi para tamu yang menginap, mereka juga menyediakan layanan transportasi antar jemput ke bandara hanya saja harus dijadwalkan terlebih dahulu. Dan setelah makan malam mereka akan bermain gitar dan menyanyikan lagu-lagu bersama para tamunya sambil mengobrol.

Saya menikmati tinggal di sana karena setiap pagi saya dapat berjalan menyusuri jalan setapak melewati beberapa rumah hingga tiba di tepi sawah yang dikelilingi dengan lembah-lembah berkabut macam di film avatar dengan udara yang sangat segar. Bunyi serangga dan kicauan burung juga sangat merdu terdengar. Seringkali saya bertemu dengan  bapak penangkap belut yang memasang perangkapnya di sore hari dan memanennya di pagi hari.

Morning at Harau Valley, Sumatera Barat
Meraton itu artinya jalan-jalan pagi dek 🙂

Setelah bertahun-tahun berkutat dengan jadwal yang padat, saya belajar kembali cara menghabiskan waktu dengan perlahan, menikmati setiap saat yang saya habiskan di perjalanan ini, entah berbincang dengan penduduk sekitar yang berkumpul di warung tempat saya jajan gorengan, menikmati sapaan ketika saya berjalan pagi menyusuri sawah. Menikmati hal-hal yang sebelumnya kita seringkali anggap remeh, suara hujan di depan bungalow yang menitik dan membuat kodok bernyanyi, suara tengkerek yang bersaut-sautan, langit gelap yang penuh dengan bintang-bintang yang sulit dinikmati kalau tinggal di kota penuh dengan kemerlap lampu. Emang sih banyak yang bilang ‘semua juga cakep aja klo lu lagi liburan’ ahahahaha tapi mencoba bersyukur buat hal-hal kecil yang seringkali kita lupakan juga gak ada salahnya kan.  Saya sendiri cukup bersyukur bahwa saya masih aman selama perjalanan ini dan diberkati dengan ketemu orang-orang yang baik.

Beautiful view at Harau Valley
Pagi pak! People at Harau Valley

Melihat tamunya yang satu ini santai-santai aja di homestay malah saudara-saudara Ibu Nonik yang aktif mengajak saya untuk bergabung bersama tamu yang lain yang hendak melihat Bunga Raflesia Arnoldi yang terkenal itu. Saya pun akhirnya bergabung ketika tamu yang lain tidak berkeberatan saya ikut, tentu saja dengan sharing biaya dan kami pun pergi menuju Palupuh, sekitar dua jam dari Payakumbuh. Para pemandu di Sumatera Barat ini saling berkomunikasi dan kunjungan ini dapat terjadi ketika guide di Palupuh menginformasikan bahwa ada Bunga Raflesia yang sedang mekar dan guide yang lain dapat mengajak tamunya untuk mendaki dan melihat. Di pos pertama kami bertemu kembali dengan salah satu turis dari Jerman yang sudah keliling Asia naik sepeda selama 7 bulan (mak!) dan dia akan bergabung bersama kami mendaki ke atas.

Raflesia Arnoldi at Palupuh National Park

Pas liat tanjakannya sih keliatannya biasa aja ya, yang gak biasa itu kawasannya masuk taman nasional dan masih ada singa gunungnya. Jalannya merupakan jalan tanah merah setapak yang menanjak yang menyelap nyelip di antara akar pepohonan yang makin menanjak, seringkali saya harus berpegangan pada ranting-ranting yang berlalu lalang di depan muka. Kita yang pakai sepatu kets aja sudah cukup kesulitan menanjak tapi si bapak pemandu di Palupuh hanya bermodalkan sendal jepit jalannya cepat sekali ‘takjub’. Di awal saya memimpin nanjak di depan, di pertengahan sudah mulai tersalip dengan yang lain dan akhirnya ketinggalan di belakang, akhirnya saya  cuma berteman dengan suara napas saya yang mulai memenuhi perjalanan ‘engaaapp tauuu, napas udah senin kamis dan betis rasanya udah mau meletus ditambah deg-deg ples kalau-kalau ketemu singa gunung yang lagi lapar’ sampai akhirnya mereka berhenti untuk menunggu saya masuk ke dalam rantai tanjakan kembali. Dan akhirnyaaaa setelah satu jaman nanjak yang keliatannya ga kemana-mana juga masih di situ aja, tampaklah bunga berwarna merah tua itu yang ternyata sudah mekar di hari kelimanya jadi tidak terlalu segar tapi yaaaa kalo buat saya sih cukup memuaskan diri untuk melihat secara langsung bunga yang beken ini. Semua orang bergantian berpoto secara hati-hati karena bunga itu mekar di sepengkolan tebing yang untungnya pohon-pohon kecil disekitarnya cukup kuat untuk menahan bobot masing-masing para tamu yang bergelendotan di sana.

Bapak pemandu menawarkan untuk menanjak kembali selama dua jam jika ingin melihat kuncup baru yang ada di bukit sebelah atas, untung saja yang lain tidak terlalu antusias dan kami pun turun kembali sambil saling berpegangan tangan. Aduh saya bersyukur banget deh, turis-turis ini baik banget mau saling bantu biar gak tergelincir selama perjalanan turun ke bawah. Dan sampai di bawah, semua sepatu yang tadinya berwarna warni berubah warna menjadi merah mengikuti  warna tanah merah sepanjang perjalanan.  Dalam perjalanan pulang kami mampir di Kapala Bando yang merupakan salah satu lokasi wisata yang cukup direkomendasikan, tetapi ternyata karena belum memasuki musim penghujan airnya kering dan yang katanya airnya akan mengalir turun seperti air terjun buatan itu hanya meninggalkan tangga-tangga beton penuh batu yang kosong ‘nasip’     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s