Travelog: Pekan Baru – Payakumbuh

Setelah berpanas-panas di Pekan Baru selama beberapa hari, saya akhirnya merencanakan untuk traveling daerah sekitarnya karena memang belum pernah sampai di tengah-tengah Pulau Sumatera hanya pernah ke Lampung dan Medan yang notabene ujung-ujungnya, sementara banyak banget tempat beken lainnya di antara itu.

Setelah tanya-tanya sama Belu, tujuan berikutnya dari Pekan Baru adalah Payakumbuh yang ibaratnya puncak bagi orang-orang Jakarta dan bisa ditempuh pakai travel selama 4-5 jaman dengan tarif 100 ribu. Akhirnya saya pun dijemput di penginapan oleh travelnya dan sekali lagi karena cukup beruntung saya dapat kursi di depan di samping pak pengemudi. Ternyata gak banyak yang mau duduk di depan kalau naik travel karena takut mabuk darat mengingat perjalanannya yang berkelok-kelok (nah ini kan saya baru tau belakangan kalau jalannya memang nggilani kelokannya) tapi pemandangannya indah bana, apalagi pas lewat kelok sembilan yang bekennya kemana-mana. Saya sampai diledekin ketika nanya apakah kita bisa berhenti sebentar untuk mengambil poto, untung masih ada Ibu Evi yang ternyata juga belum pernah poto di Kelok sembilan, jadi dari delapan orang di dalam travel itu hanya dua yang norak ahahahaha. Tadinya kami semua gak kenal, tapi lama-lama bicara jadi saut-sautan dan pas udah mulai akrab malah pada bubar karena sudah tiba di tempat tujuan masing-masing.

Ayo Bu, kita poto di Kelok Sembilan 😀
Continue reading

Travelog: Pekan Baru

Halo, apa kabar kalian semua? Daripada gak ada isinya, kali ini saya mau bayar utangan postingan catatan perjalanan dua tahun lalu (iya maafkan hasrat menulis ini yang timbul tenggelam, idenya sih banyak tapi kok bikin paragraf pertama itu mengingatkan pas bikin skripsi yang nunggu wangsit muncul, apalah).

 Sebelumnya gak kepikiran loh travelling ke Pekan Baru sampe ada undangan kewongan anak buah di daerah Tampan dengan harapan banyak orang tampan di sana ‘harapan yang baik semoga selalu dikabulkan dong’  

Ngepak ransel nya semangat 45 sambil ngumpet-ngumpet masukin baju travel tipis-tipis karena ada yang mantau. Emak ga tau klo anaknya udah ga kerja kantoran dan butuh refreshing saat itu. Bawa baju kondangan satu, beberapa pasang baju dalam, kaos dan celana panjang, sendal gunung dan sepatu kets silver yang dipake buat kondangan, payung , tas anti air dan obat-obatan pribadi juga gak lupa masuk ransel. Tas cangklong coklat isinya ya barang-barang penting seperti dompet, kamera dan charger.

Di pagi keberangkatan saya baru ingat kalau ada kakak kelas yang tinggal di sana dan belum lama kirim-kirim poto sedang makan-makan sama teman saya yang kebetulan dari Bogor yang sedang dinas ke sana minggu sebelumnya. Segera saja saya colek kakak kelas saya itu, menginformasikan bahwa saya hari itu akan tiba di Pekan Baru (yay!). Balasannya cuma menanyakan ini beneran atau gimana? Lalu Belu (iya saya manggilnya Belu, karena kakak kelas saya ini seperti beruang lucu dan ngefansnya sama winnie the pooh) hanya menanyakan naik apa, sampai jam berapa.  Setelah tukeran informasi, saya duduk tenang-tenang menikmati flight yang hanya satu jaman, dan pas menyalakan hp kembali ternyata Belu sudah kirim pesan beberapa kali.  Ternyata ya, karena emang rejeki anak sholeh atau karena kakak kelas saya yang satu itu emang baik hati banget si Belu ini ternyata sudah standby di airport jemput pas jam makan siang. Terharu banget loh kalau lagi jalan sendiri, belum tau daerahnya, eh ternyata ada yang surprise jemput di bandara, pakai ditraktir makan siang lalu didrop di tempat penginapan karena Belu harus kembali ke kantor setelah jam makan siangnya usai padahal kangen-kangenannya belom beres. Kami udah sepuluh tahunan gak ketemu sejak wisudaan euy, jadi bahagianya dobel-dobel ini.

Kakak Belu