Rasa itu

Retakan nekrosa sel-sel hati saya hampir seperti papan tulis yang penuh dengan jejak kapur berwarna warni bertumpuk bertuliskan namanya hingga tak ada lagi ruang kosong lagi untuk menulis. Saya merindukannya dan setelah sekian lama rasa ini masih saja hadir untuknya.

 

Apakah kamu tahu?

 

Rindu ini bagaikan virus yang tak terdeteksi, mengendap dan bereplikasi di sudut sel-sel memori otak dan hati tanpa gejala patognomonis yang nyata. Menimbulkan intermittent fever setiap kali sistem imun dalam tubuhmu lengah. Irama dan aroma tertentu akan menstimulasi mereka keluar dari sel-sel memori B beriringan dengan eritrosit yang mengisi setiap pembuluh darah kapiler. Tanpa dilatasi dinding kapiler, jantungmu akan berdenyut lebih cepat dengan irama lup dup iregular, mengaktifkan kelenjar air matamu dengan gejala klinis yang muncul adalah hiperlakrimasi. Pada saat yang sama setiap inhalasi, setiap hembusan nafas yang memompa oksigen ke dalam paru-parumu akan terasa begitu menyesakkan dan menyakitkan.

 

Virus itu akan tetap bereplikasi hingga yang tersisa kemudian hanyalah diagnosis infausta. Sedikit harapan untuk bertahan hingga ditemukannya antidot spesifik yang mampu mengobatinya. Sedikit harapan

someday......... 'grab from google'

someday......... 'grab from google'

 

 

You are my antidote koibito kun desu.

Until then I’m just a patient

 

About these ads

23 thoughts on “Rasa itu

  1. you are the pain
    you are the cure also

    you are the sun
    you are the darkness also

    you are the hate
    you are the love also

    la la la la

    * overdose mp3 today >_< *

  2. weLL

    *veryy big hugzzzzzzzzzzzzzz…..**

    maen ke bandung yu non…

    nanti kl ada rezeki kita ke jepang yoyoyo…aminn

  3. awwwwwwwwwwwwwwww…

    *GIANT BEAR HUGZZZZZZ*

    mungkin kamu terlalu keras kepala sell…

    hope he’s really worth it… kalo ndak biyar kugetok palanya pake kibod… bikin sahabatku ini nyanyi2 rindu ala Betharia Sonata gini…

    hmmmm… apa kukirimin tiket pp ke jogja aja yah…???
    :roll:

  4. @Ries : ‘glugug inpusnya’

    @Itikkecil : ah… ‘mingkem’

    @Ruru : yeah kinda sound so, but still the feeling wont go away (T.T)

    @Rian :

    @Arm :

    @Andiyan :

    @Mamam kiki : ada deh ^^

    @Warm : emang, makanya ta tulis complicated toh pakde ‘hikz’
    *caplok vitaciminnya*

    @Thelo : ‘gigit thelo’

    @Rinie : kalau ga keren ga dipasang dong rin :)

    @Goen : someone special for me :)

    @Nie : ‘pentung’ ge er aja deh wkwkwk

    @Unai : ‘peyuk peyuk’

    @Klaus : Hi Klaus, thanks for stoppin by & the compliment, I really appreciated that. i’ve been trying to visit your, but hardly understand other language than my limited Englih.

    @Poo : ya mungkin aku memang keras kepala, but this is the price I have to pay when I follow my heart rite
    ‘kirim tiket’e sinih Poo’

    @Nengfey : kalo pake bahasa biasa nanti malah jadi kae teks lagu dangdut soale neng

    @Ichanx : cih, KTP saya masih ada kok pak!!!

    @Martinha : thanks for stoppin by dear

    @Omiyan : saya sendiri masih berusaha memaknainya Om

  5. wahhhh, keren tulisannya.
    satu2nya penulis yg saya pernah baca tulisannya dgn gaya bahasa ilmiah tp teteup puitis cuman tulisannya dewi lestari, tapi sekarang udah nambah satu lagi, ya tulisan mbak ini.
    salut dehh

  6. Pingback: BasBang Report: Japan, day One « Ansella

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s