Yogyakarta – Jakarta – Bogor

Malam minggu itu saya kembali duduk di kursi besi di antara rel-rel kereta di Stasiyun Lempuyangan. Kali ini pasti, saya akan pulang karena libur telah usai. Dari Seturan, kali ini saya diantar ke Lempuyangan oleh Mas Didi dan eyang kakungnya jeng Imoel dan Toko yang sedang mampir di Seturan. Memantapkan diri, saya harus kembali ke Bogor dan memulai kembali semua rutinitas yang kadang (belakangan sih seringkali deh) membuat saya jenuh. Permasalahan yang tak kunjung usai serta ketegasan yang tak kunjung ditunjukkan di kantor membuat saya tergoda mengingkari janji saya dan memutuskan untuk berpaling ke tempat yang lain. Tapi saya belum bisa dan saya memutuskan untuk kembali. Begitu banyak pertimbangan dan perhitungan yang singgah di benak untuk beberapa waktu. Ah… mungkin saya sendiri yang masih belum siap meninggalkan comfort zone saya ya…. lah malah jadi curhat?

 

*mungkin ketularan lebay dari Eru nih gyahahaha*  

menunggu di lempuyangan

menunggu di lempuyangan

 

Saya kembali ke Jakarta dengan menumpang kereta Gaya Baru Malam 2 yang berasal dari Surabaya. dengan tiket seharga 28.000 rupiah. Ketika akhirnya kereta tiba jam setengah sebelas malam saya dan penumpang lain harus berdesak-desakan mencari tempat duduk. Hmmm…. banyak juga penumpang yang bertebaran sepanjang gerbong yang hendak menuju ke ibukota rupanya. Saya menemukan tempat duduk di gerbong restorasi, tapi tentu saja itu tidak gratis satu meja makan untuk 4 orang, masing masing dikenai biaya tambahan 25.000 rupiah. Untuk pengganti bu, karena ini kan namanya gerbong restorasi, nanti dapat nasi goreng dan minum kok kata salah seorang petugas yang berkumpul di situ. Ya sudahlah, akhirnya saya pun membayar biaya tambahan yang diminta, itung-itung membayar biaya makan malam deh.
masih menunggu....

masih menunggu....

Sempat juga ada kejadian yang cukup bikin panas melihat kelakuan para petugas yang bisa mencoreng nama baik PJKA. Pada salah satu sudut gerbong lain yang berdempetan dengan gerbong restorasi, ada tulisan di dinding kereta dengan cat berwarna coklat kemerahan ‘Untuk Petugas’, ternyata para penumpang itupun diharuskan membayar sama halnya dengan saya kemudian sempat disuruh pindah mencari tempat lain karena salah seorang petugas yang katanya lelah ingin beristirahat itu marah-marah dan berbicara cukup keras. Padahal saya lihat di sebelah dapur kecil yang ada di gerbong restorasi itu yang merupakan ruangan yang disekat untuk tempat tidur para petugas malah disewakan untuk orang lain. Memang sih pada akhirnya para penumpang masih di tempat mereka masing-masing, tapi caranya itu loh, terlalu. Gerbong itu pun sebenarnya memang gerbong penumpang. Hah tapi sudahlah, toh saya hanya bisa mendumel dalam hati saja saat itu.  

para pencari nafkah di stasiun

para pencari nafkah di stasiun

Saya pun akhirnya hanya menghela nafas dan akhirnya tertidur dengan kaki saya lilitkan pada tali ransel saya. Saya terbangun ketika kereta berhenti di stasiun Cirebon dan menghabiskan sisa perjalanan menatap kegelapan di luar jendela kereta hingga akhirnya kereta tiba di stasiun Senen di pagi hari. Sambil mengantuk saya memantapkan langkah berjalan keluar stasiun mencari angkutan umum untuk membawa saya ke stasiun Kota. Saya memutuskan untuk kembali menuju Bogor dengan menggunakan kereta Pakuan. Siang itu akhirnya saya pun tiba kembali di Bogor.

keriuhan di stasiun Kota

keriuhan di stasiun Kota

 

Ahhhhh…. akhirnya selese juga utang posting selama liburan ya (^_^)

 

Hontoni arigato gozaimasu buat semua yang mempunyai andil dalam meramaikan liburan saya, mulai dari Jeng Carra di Yogyakarta di awal perjalanan dan akhir perjalanan, Jingga bel di Surabaya, rombongan mpusuya ondepingu dan Sasha di Kuta, mpok Fenny – Gde – Bowo dan Ivan di Tukad.

 

Kopdaran dadakan dengan Gage menyerbu tukang mie taman kencana dan kopdar kedua dengan mpok Fenny di Jakarta + Neng Fey, Mikow dan Senny juga memberi warna tersendiri walaupun saya belom mempostkannya di sini ^^ Tenang Ge, opung masih inget itu mie 2 mangkok kan gyahahaha….

 

*peyuk peyuk semuanya*

 

13 thoughts on “Yogyakarta – Jakarta – Bogor

  1. *mencari 10 perbedaan di lempuyangan*

    kok ga ada poto monyet joged demi recehan di depan setasiyun sih *asal komen sambil nyruput*

    *ngeliat poto setasiyun yang gelap di bawah*
    kok ga ada poto penampakannya sih? gak seru

    *merasa pernah ngeliat poto yg mirip di atas, males nyekerol ke atas buat ngebuktiin, gag penting*
    ya karena udah dikasih pertamax, kali ini saya ga terlalu rewel deh *nyelonong pergi dengan manis*

  2. @ Uya onde : syuh syuh… protes aja, andai pake kamera pasti warna lampu2 itu lebih bagus keliatannya deh, kalo malem motret pake hape suka berubah warnanya (T T)

    @ Manik : selamat donggg walaupun hati agak mendongkol melihat kelakuan para oknum itu

    @ Amru : wah makasih dah mampir ke sini ya, salam kenal juga ^^

    @ Fenny : lagi minta cuti dulu mpok, soalnya temen kantor ada yang resign so kaenya cutiku bakalan dipending

    @ Ichanx : kirimkan saja tiketnya dan saya akan segera berangkat *nyengir*

  3. hmm…….udah kelar liburan, gk mayes ya balik ngantor 😀

    *digemplang secara gk ngasih semangat malah sebaliknya *

    sella klo bikin report asik euy…rada puitis2 gimanaaa gitu ^^

  4. @ Bowo : ya makan toh cah ^^

    @ Jingga bel : hummm…. masa iyo? ga sadar ki aku gyahahaha….

    @ Itik kecil : hayo atuh, kapan ke sini?

    @ Eru : huuuhhhh….. kelakuan kae abege ajeee….
    *getok getok mpus*

    @ Neng Fey : ya olo, kok tante sih? opung gitu gyahahaha…
    sapa juga yang mau nyulik opung cu….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s