BasBang Report: BALI, day Two

Setelah sekian lama sejak laporan BasBang hari pertama, marilah kita lanjutkan dengan hari kedua yak ;p

One of the member of the Safari Zoo Park in Bali, October 2010

Pagi kedua diawali dengan sarapan bersama di hotel, dari sana kami langsung menuju Bali Safari & Marine Park yang berada di daerah Gianyar yang masih cukup dekat dari Denpasar. Belum puas melihat pemandangan di luar tau-tau sudah sampai di parkiran Safari Park dan sudah harus turun kembali mengantri mengambil tiket berupa gelang kertas yang sudah diberi barcode lalu melalui palang besi kitiran (itu loh palang besi yang kalau mau masuk ke supermarket, maafkan saya lupa namanya ‘tepok jidat’) ada beberapa toko souvenir yang berjejer ketika kami diarahkan menuju halte pertama untuk menunggu kendaraan jemputan yang akan mengantar kami berkeliling. Kendaraan yang digunakan ini bentuknya seperti bis anak sekolah dengan 4 pintu masuk, masing-masing deret dapat memuat 3-4 orang untuk diangkut. Ndlalah kepikiran udah bakalan langsung keliling ke dalam ternyata kita malah diangkut menuju tempat perhentian kedua yang berupa pendopo besar untuk menanti bis anak sekolahan kedua yang akan mengajak kami akhirnya masuk ke dalam taman safarinya.

Cukup antusias juga buat ngelilingin taman safari di Bali ini loh etapi kok ndlalah hewannya banyak sekali yang masih bobo pas kita keliling ya, mulai dari burung hantu (ini wajar kalo dia masih bobo pagi-pagi), orang utan (mungkin dia baru begadang semalam suntuk), singa (well yeah, masuk nocturnal deh secara masih sejenis kucing yang memang lebih aktif di malam hari), oom harimau sih sudah leyeh-leyeh dengan mata terbuka pas dikunjungi), tante kuda nil dan baby-nya juga sudah bangun tapi sepertinya belum siap untuk dikunjungi karena sedang mandi, para kuda-kudaan, kijang dan gajah sudah bangun juga dan sedang sarapan. Rutenya juga tidak terlalu panjang dan akhirnya kami diantarkan kembali ke halte lainnya, dari situ kami digiring menuju lokasi lain melewati lokasi burung kakaktua warna-warni menuju panggung hiburan. Panggung hiburan belum dibuka tapi sudah ada gladi resik loh, para pawang sedang berlatih dengan anak didiknya, dan terlihat ada pelatih show yang sedang mangut-mangut di depan panggung sambil menunjuk ini itu.

Sleeping honey bear, Safari Park Zoo Bali, October 2010

Saya berjalan menuju sebuah gua besar di sebelah kanan panggung, dan tentu saja lokasi di depan gua tidak luput dari sasaran para banci kamera ;p yang justru menutupi patung Ganesha yang ada di tengah-tengah gua tersebut. Yak benar, ternyata ini adalah kawasan gajah saudara-saudara, di sebelah kiri luar gua ada kolam kecil tempat gajah-gajah berendam dan dimandikan sekalian untuk berfoto bersama pengunjung. Fotonya tidak bayar kok tapi pengunjung bisa membeli seikat dua ikat wortel atau kangkung untuk ikutan memberi makan gajah-gajah tersebut, saya beli 4 jadi kan bisa kangen-kangenan sama gajahnya #eh

Tak jauh dari situ, ada akuarium ikan besar lengkap dengan dekor kapal cadik yang diletakkan di pinggir kolamnya yang dibuat menyerupai akuarium raksasa. Pengunjung dapat menatap ikan sepuasnya dalam pondok kecil yang memang disediakan supaya tidak kepanasan. Berlama-lama di sini malah membuat saya melapar setelah melahap ikan bakar di Jimbaran pada malam sebelumnya ;p

Sleeping Puma, again??? Bali, October 2010

Madam Lion is sleeping too ;p Bali, October 2010

Klo raja sih wajar masih bobo ya - Bali, October 2010

Ke sebelah belakang lagi (baiklah saya sudah kehilangan orientasi lokasinya di sini (>_<)) ada lokasi khusus yang berciri khas India, saya pun tertarik untuk memasukinya. Tampak bangunan dari luar tampak seperti bangunan baru tapi begitu masuk di dalam dekorasinya seperti memasuki peninggalan kerajaan dengan lukisan-lukisan kasar pada dinding batu bata yang memang menarik hati. Ada jendela-jendela kaca besar yang langsung terhubung dengan kandang harimau Benggala putih, dengan semangat empat lima kamera dikeluarin ternyata memang nasib, harimaunya masih bobo dengan nikmatnya di pendopo tamannya huhuhuhu…. tapi ternyata ada anak harimau 4 bulanan yang boleh diajak berfoto di pojok aula ini, saya pun dengan langsung ikutan antri di antara balita-balita yang digandeng oleh orang tuanya hehehe….. Pas giliran saya, sudah tidak ada yang antri lagi jadi saya bisa ngobrol dengan keeper dan  puas bisa menguwel-uwel anak harimau chubby yang sedang ngambek itu, usut punya usut supaya anak harimaunya mau difoto ada dot susu yang dipegang oleh keepernya untuk membuat si anak harimaunya menoleh, kasihan ya ‘puk puk puk’ Saya baru berhenti menguwel-uwel begitu ada rombongan baru masuk dan baru sadar kalau ada akuarium di dinding sebelah kanan yang berisi ular-ular, dan sekali lagi semua ular kompakan sedang melingkar dan bobo, umpannya saja dicuekin kok apalagi saya #eh. Poto uwel-uwel ini sudah bisa dilihat di sini ya.

Mommy tiger is sleeping - again 'sigh' Safari Park Zoo Bali, October 2010

Saya pun akhirnya harus kembali menuju ke tempat rombongan, sempat melewati sepasang unta yang bibirnya sangat seksi sekali, menjepret kakaktua warna-warni dan langsung digiring keluar kembali menuju bis mengingat masih ada jadwal mengunjungi Istana Tampak Siring.

Sebelum ke Istana Tampak Siring, kami sempat singgah di daerah Kintamani, menatap Danau Batur sembari makan siang. Saya sudah pernah ke sini tapi tetap saja menyenangkan untuk kembali ke tempat yang sudah pernah kita kunjungi sebelumnya kan sayang tidak ada kesempatan kembali mengunjungi Museum Volcano Talk  yang sebenernya gak terlalu jauh dari tempat makan kami, padahal pingin liat sudah ada yang baru apa lagi di situ sejak terakhir berkunjung.

Istana Tampak Siring, jika kamu gemar main monopoli pasti kamu akan mengenali nama ini, namanya tidak asing kan? ‘cengar-cengir’ tentu saja Brastagi tetap menjadi lokasi favorit karena sewa hotelnya paling mahal #ealahmalahbahasmonopoli ;p  sepertinya Tampak Siring ini memang sudah dijadikan salah satu daerah wisata karena lokasinya memang berdempetan dengan Pura Tirta Empul, hal ini terlihat dari luasnya tempat parkir yang disediakan untuk bis-bis pariwisata dan sekomplek kios-kios yang disedikan sebagai tempat belanja. Karena lokasi tempat belanjanya sudah Nampak di depan mata, sepertinya semua orang tidak sabar untuk melihat ke dalam kemudian keluar lagi. Istana tentu saja tidak boleh masuk, hanya bisa menatap dari kejauhan. Saya juga sedang berhalangan sehingga tidak bisa ikutan masuk ke dalam pura, hanya melihat-lihat di luar, menyebrang jembatan kecil di samping kawasan pura, menanjak ke atas dan ternyata pemandangannya bagus juga, menanjak sedikit lagi dan saya bisa melihat istana serta ibu-ibu yang sedang mandi di sungai kecil di tepi sawah ‘tepokjidat’ sebenernya bukan sungai juga sih tapi selokan di tepi sawah yang airnya memang jernih kok. Saya hanya sempat menjepret istana beberapa kali sebelum akhirnya memutuskan untuk turun.

Udah ga bisa ikutan masuk ditambah cuaca mendung, saya akhirnya berjalan kembali menuju bis. Ternyata rombongan ibu-ibu sudah banyak yang berkumpul dan dengan antusiasnya belanja di kios-kios souvenir. Saya dan beberapa teman tertarik dengan seorang ibu tua yang menjajakan duren dan pisang, durennya sih cuma satu tapi rasanya manis loh, gerak cepat, seluruh isi duren pun akhirnya pindah tempat ke perut-perut gembul. Ketika kami sedang berfoto, ibu tua ini sepertinya tidak terlalu menyukai kamera, baik itu kamera butut saya, kamera canggih ataupun kamera handphone kepunyaan teman. Awalnya kami agak bingung karena ibu tua itu hanya bisa bicara menggunakan bahasa Bali, hingga datang pemilik kios di depan dan menjelaskan kepada kami kalau nenek tua itu tidak ingin difoto. Kamera tidak digunakan tapi nenek tua itu tetap saja kuatir diambil fotonya sampai menangis loh ‘bihikz’

Perjalanan kembali dilanjutkan, begitu rombongan mulai memasuki bis kembali, datanglah serombongan anak-anak yang menawarkan berbagai macam jajanannya sambil berteriak-teriak. Kami pun akhirnya pergi meninggalkan Tampak Siring sambil dadah-dadah, serasa artis gitu deh ke anak-anak yang masih bergerombolan di samping bis.

Malamnya diadakan acara gathering di hotel, tetapi mengingat mereka besok harus kembali begitu acara selesai semua serempak bubar, melanjutkan belanja lagi. Saya sendiri, Mama Panda dan Ibuk sepakat berjalan menyusuri Kuta-Legian untuk menghabiskan waktu. Jalan masih ramai dengan para pengunjung dan setelah berjalan cukup jauh sampai kaki mo copot #lebay kami sepakat memasuki salah satu tempat massage yang ada di sudut Legian. Awalnya hanya ingin pijit kaki tapi akhirnya malah memutuskan pijit badan alias pijat pakai lulur. Begitu masuk kios, harum aroma terapi lavender langsung tercium, kami pun diminta untuk menunggu sebentar sementara blih yang menyambut kami memanggilkan pemijatnya. Lalu muncullah seorang mbak-mbak yang mempersilahkan kami untuk naik ke lantai dua, tangganya kecil dan begitu sampai di lantai dua, dekorasinya terlihat lebih remang-remang dengan lampu merah biru oranye gitu deh yang dibuat redup, bukannya tenang kok saya malah jadi sedikit kleyeng melihatnya ya. Di lantai dua yang ruangannya cukup luas diberi tirai sebagai penyekat untuk masing-masing dipan dan karena kami datang berbarengan, hanya tirai luarnya saja yang ditutup. Simbok memberi kami satu potong disposable undies sebelum menutup tirai. Iya disposable undies alias celana dalam sekali pakai, itu artinya sisanya ga dikasih apa-apa, ada alas kain batik di dipan sih (>_<). Kami bertiga berganti daleman sambil ngakak dan langsung tiarap pada dipan masing-masing untuk menutupi dada sementara simbok memanggil teman-temannya tapi kok agak lama ya…. Kami pun langsung ngakak kembali membayangkan simbok dan teman-temannya sedang hompimpah siapa yang dapat siapa karena terus terang kami punya ‘kebesaran’ masing-masing ;p Lagi sibuk menarik-narik kain dari dipan untuk menutupi badan, simbok dan teman-temannya pun datang sambil membawa air hangat untuk merendam kaki kami sementara mereka mempersiapkan perlengkapan tempur untuk memijitnya. Diawali dengan pijatan di kaki dan tangan dilanjutkan dengan melulur, kemudian pijatan di punggung yang dilanjutkan dengan pijatan lembut di kepala, masing-masing sudah tak bersuara lagi karena hampir terlelap secara sudah . Dengan harga berkisar 85 ribu saya rasa ini lumayan direkomendasikan untuk dicoba deh.

Dari Legian kami pun berjalan menembus melalui Poppies Lane yang dikenal surganya para backpacker, hampir di sepanjang jalan ada kafe-kafe yang masih cukup ramai. Banyak para turis asing yang masih menikmati makan malam atau pun sekedar kongkow-kongkow dengan teman-temannya. Sebagian art galeri yang ada di jalan tersebut sudah tutup, tapi pemandangan lampu yang dipajang dari etalase sungguh menggoda mata. Sebuah lampu kepala Budha dari keramik yang besar dan bersinar temaram merah seakan-akan menatap mengawasi. Kami pun akhirnya tiba di tepi pantai Kuta, suasana sudah mulai sepi dan karena melapar kami pun memutuskan untuk nongkrong di salah satu pujasera yang menyediakan hidangan seafood.

Sambil berbincang gak kerasa semua hidangan satu per satu mulai dari kwetiauw goreng, kepiting saus padang serta sepiring plecing kangkung dan beberapa piring nasi lenyap dengan pasti dan kami pun harus segera kembali ke hotel, Mama Panda dan Ibuk harus mengepak karena akan kembali ke Jakarta besok siang dan saya memutuskan untuk ijin satu hari sehingga mendapatkan 3 hari tambahan di Bali yay….

PS. Melihat poto di atas mungkin saya akan bikin kompilasi poto-poto bobo ya, ada yang mau saya poto pas bobo? ;p

About these ads

One thought on “BasBang Report: BALI, day Two

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s